Thitikul mencetak rekor 54 lubang & memperluas keunggulan final LPGA

Rekor Baru yang Mendorong Kepercayaan Diri
Gelombang cerita menarik kembali hadir ketika Jeeno Thitikul mencetak rekor 54-hole di ajang CME Group Tour Championship. Dalam atmosfer kompetitif yang terus meningkat, ia tampil sangat dominan. Selain itu, ia juga memperluas keunggulan menjadi enam pukulan, sehingga para pesaing harus bekerja lebih keras. Sejak awal babak ketiga, aura percaya diri melingkupinya dan membuat performanya semakin konsisten. Thitikul, yang masih berusia 22 tahun, menunjukkan fokus hebat dan ritme stabil. Karena itu, permainan agresifnya terasa semakin kuat sepanjang putaran. Ia menegaskan bahwa tujuannya sederhana, yaitu mengejar birdie sebanyak mungkin.
Selain itu, rekor barunya menggambarkan naiknya kualitas kompetisi dalam tur ini. Ia memainkan ronde ketiga dengan skor 64 atau delapan di bawah par. Hal itu langsung mendorong total skornya menjadi 22 di bawah par, sebuah angka yang melampaui catatan tahun lalu. Namun, konsistensi bukan satu-satunya senjata karena ia juga menampilkan ketenangan luar biasa. Ia bahkan menyebut bahwa dirinya hanya ingin fokus pada permainan sendiri. Karena strategi itu, ia mampu mengendalikan tekanan. Otoritasnya di lapangan sangat terasa, terutama ketika para pesaing juga tampil baik dan menutup jarak dengan cepat.
Meskipun ia memulai hari dengan bogey, ia segera bangkit. Transition demi transition ia lalui dengan gaya tegas. Birdie pada hole kedua membuka momentum penting. Ia lalu menambah birdie di hole keempat, kelima, dan keenam. Rentetan tersebut membentuk dasar keunggulan yang terus meluas. Pada sembilan hole berikutnya, ia kembali menyerang. Ia mencatat empat birdie beruntun dari hole sebelas hingga lima belas. Karena itu, posisinya semakin sulit terkejar. Birdie di hole 17 menegaskan dominasinya.
Untuk memberikan gambaran kondisi papan klasemen, berikut tabel ringkasnya:
| Pemain | Skor |
|---|---|
| J. Thitikul (Tha) | -22 |
| P. Anannarukarn (Tha) | -16 |
| N. Korda (US) | -16 |
| K. Sei-young (Kor) | -15 |
| L. So-mi (Kor) | -14 |
| N. Koerstz Madsen (Den) | -13 |
| J. Kupcho (US) | -13 |
Persaingan yang Tetap Sengit
Sementara Thitikul memimpin, para penantang seperti Pajaree Anannarukarn dan Nelly Korda tetap menjaga asa besar. Mereka sama-sama mencatat skor 65, sehingga keduanya mengikat posisi kedua dengan skor -16. Karena itu, mereka terus menempel Thitikul. Dengan performa eksplosif seperti itu, turnamen semakin panas. Korda, yang berada di peringkat dua dunia, menunjukkan kontrol penuh dalam permainan pendeknya. Selain itu, ia memanfaatkan peluang birdie secara agresif. Anannarukarn pun tampil serupa, dengan permainan rapi dan penuh energi.
Para pesaing lain juga tidak menyerah. Kim Sei-young berada di posisi berikutnya dengan skor -15, sehingga peluangnya masih terbuka. Lee So-mi, dengan skor -14, terus menjaga ritme. Lalu, Koerstz Madsen dan Kupcho berada di angka -13, yang membuat persaingan tetap menarik. Transisi antar-hole dari para pesaing mencerminkan upaya keras, namun tetap belum cukup untuk menembus gap enam pukulan.
Namun demikian, Thitikul tetap fokus pada jalurnya sendiri. Ia tahu bahwa keunggulan besar bukan jaminan kemenangan. Karena itu, ia terus menjaga tempo dan meminimalkan risiko. Targetnya bukan bertahan, melainkan menambah jarak. Gaya agresif namun terkendali membuat langkahnya semakin mantap menuju putaran final.
Peluang Sejarah dan Hadiah Besar
Jika Thitikul menuntaskan kemenangan, ia menjadi wanita kedua yang memenangkan turnamen ini secara beruntun. Ko Jin-young sebelumnya melakukannya pada tahun 2020 dan 2021. Walaupun tekanan sejarah menghampiri, Thitikul tetap bermain tanpa beban. Ia lebih memilih menikmati proses. Karena itu, ia mampu menjaga stabilitas mental. Keunggulan enam pukulan memberinya ruang besar untuk mengatur strategi.
Selain itu, hadiah luar biasa menantinya. Jika ia juara, ia mengantongi $4 juta dari total hadiah $11 juta. Angka itu menjadikannya salah satu kemenangan dengan bayaran tertinggi dalam sejarah LPGA. Hadiah besar tersebut mencerminkan meningkatnya nilai kompetisi global. Turnamen ini terus menarik perhatian karena prestise dan tekanannya sangat tinggi.
Perjalanan menuju putaran final menjadi momen yang penuh ekspektasi. Dengan semua pencapaian ini, Thitikul berdiri di ambang sejarah. Selain memecahkan rekor, ia mungkin meraih gelar back-to-back. Karena itu, dunia golf menanti langkah terakhirnya.